Mengetuk Pintu Langit di Tengah Kemarau: Ratusan Santri dan Warga PALI Gelar Sholat Istisq dzikir Doa Bersama

banner 120x600

LIPUTANOKENEWS.COM, PALI – Di tengah kepungan debu jalanan, ancaman kebakaran hutan yang memicu kabut asap, serta ancaman infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), ratusan warga bersama para santri dan pelajar SMA Amaniyah memilih jalan spiritual. Berbalut busana muslim, mereka memadati Masjid Pondok Pesantren Nurul Qur’an Abab pada Sabtu siang, 29 Agustus 2026, untuk menengadahkan tangan memohon rahmat Ilahi melalui pelaksanaan Salat Istisqa, zikir, dan doa bersama.

Inisiatif yang digerakkan oleh keluarga besar Ponpes Nurul Qur’an ini lahir dari keresahan mendalam melihat kemarau panjang yang tak bertepi.

“Ini merupakan respon cepat mengingat keadaan bencana yang tengah melanda daerah kita. Debu berterbangan, kebakaran di mana-mana yang menimbulkan kabut asap, serta kekeringan di segala penjuru,” ujar Ketua Panitia, Muhammad Fathan Akbar, di hadapan ratusan jemaah.

Kegiatan sarat makna ini turut dihadiri oleh jajaran pemangku kepentingan setempat, mulai dari Kades Betung Barat Rozali, Penghulu Ahli Pertama KUA Abab Haris Munandar, Ketua LPTQ Kabupaten PALI Endang Jaya, Pimpinan Ponpes Majma Al Bahrain Purun Beri Prima, Kasi Sos Kecamatan Abab Edison, hingga Anggota DPRD PALI Muhammad Budi Hoiru, serta para tokoh agama dan masyarakat. Kehadiran para pemimpin daerah ini menegaskan bahwa bencana kekeringan dan kabut asap adalah persoalan bersama yang menuntut kepedulian kolektif.

Pemerintah Kecamatan Abab melalui Kasi Kesos, Edison, menyampaikan apresiasi mendalam atas langkah proaktif Ponpes Nurul Qur’an yang menginisiasi kegiatan keagamaan demi kemaslahatan umat. Senada dengan hal tersebut, Haris Munandar dalam khutbah singkatnya mengajak seluruh jemaah untuk beristigfar dengan khusyuk, memohon ampunan atas segala dosa, serta mengetuk pintu langit agar Allah SWT segera menurunkan hujan yang membawa berkah.

Kekhusyukan siang itu semakin terasa saat pembacaan Surah Yasin dipimpin oleh Endang Jaya, yang kemudian dilanjutkan dengan lantunan zikir dan doa bersama yang dipimpin langsung oleh Beri Prima. Di balik terik kemarau dan pekatnya udara, doa-doa yang dipanjatkan ratusan jemaah menjelma menjadi simbol harapan agar tanah yang gersang kembali subur dan udara kembali bersih.

Rangkaian acara kemudian ditutup dengan kebersamaan yang sederhana, menikmati hidangan dan minuman seadanya sebagai wujud syukur. 

Di tengah ujian kekeringan, ikhtiar langit dan bumi yang berpadu hari itu meninggalkan pesan kuat: bahwa kepedulian, kebersamaan, dan doa adalah kekuatan terbesar dalam menghadapi setiap musibah.(FR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!